Acara diawali dengan sambutan pengantar dari Ketua PAC GP. Ansor Watulimo, Sahabat Murdiyanto, yang mengangkat pentingnya kaderisasi, penguatan ideologi ke-NU-an, dan peran strategis Rijalul Ansor sebagai penjaga tradisi dan spiritualitas dalam tubuh Gerakan Pemuda Ansor.
"Rijalul Ansor bukan sekadar forum dzikir, tapi wadah penguatan ruhani kader agar militansi dalam berorganisasi tidak kehilangan arah. Kita butuh kader militan yang kuat secara spiritual, intelektual, dan sosial," tegas Sahabat Murdiyanto dalam sambutannya.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan istighotsah yang dipimpin oleh Sahabat Syamsul Huda (Ketua PAC JQHNU Watulimo). Setelah itu, pembacaan Hizib Nawawi oleh Sahabat Khusnul Mutholib, Hizib Nashor oleh Sahabat Khoirul Masduki, serta Aurad dan Doa Mbah Hasyim Asy’ari dipimpin oleh Sahabat Mustakim. Suasana makin khusyuk saat lantunan sholawat Mahalul Qiyam menggema di tengah malam.
Acara ditutup dengan diskusi ringan seputar dinamika organisasi, tantangan kaderisasi, serta penguatan sinergi antar-ranting di wilayah Kecamatan Watulimo. Momen ini dimanfaatkan para peserta untuk menjalin silaturahmi sambil menikmati jamuan ramah tamah dari tuan rumah.
Kegiatan dihadiri oleh segenap pengurus PAC GP. Ansor Watulimo, jajaran Satkoryon Banser, Pengurus MDSRA, Pimpinan Ranting GP. Ansor dan Satkorkel Banser se-Kecamatan Watulimo.
Lailatul Ijtima’ ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara kader, struktur, dan spiritualitas adalah pondasi kokoh dalam menjaga eksistensi dan kemajuan Gerakan Pemuda Ansor di Watulimo. (My)